KONDISI PASAR BALONG PONOROGO DIBALIK MARAKNYA WABAH CORONA
KONDISI PASAR BALONG PONOROGO DIBALIK MARAKNYA WABAH CORONA
Ratna Feby-Juni 14, 2020
Gambar tersebut terlihat jelas aktivitas di Pasar Balong jika dilihat dari jalan raya Ponorogo-Pacitan
Ponorogo merupakan sebuah kabupaten yang terletak di bagian barat daya Provinsi Jawa Timur Kabupaten Ponorogo adalah sebuah daerah di wilayah Provinsi Jawa Timur yang berada pada posisi 200 Km sebelah barat daya ibu kota propinsi, dan 800 Km dengan ibu kota Negara Indonesia. Kabupaten Ponorogo terletak pada 111°7’ hingga 111° 52’ Bujur Timur dan 7° 49’ hingga 8° 20’ Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Ponorogo yang mencapai 1.371.78 Km2 habis terbagi menjadi 21 Kecamatan yang terdiri dari 305 desa/kelurahan. Wilayah Kabupaten Ponorogo di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Magetan, Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Di sebelah selatan dengan Kabupaten Pacitan. Sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah).
Menurut Bappeda Jatimprov Kabupaten Ponorogo tahun 2013, Kondisi topografi Kabupaten Ponorogo bervariasi mulai daratan rendah sampai pegunungan. Berdasarkan data yang ada, sebagai besar wilayah kabupaten ponorogo yaitu 79 % terletak di ketinggian kurang dari 500 m di atas permukaan laut, 14,4% berada di antara 500 hingga 700 m di atas permukaan laut dan sisanya 5,9% berada pada ketinggian di atas 700 m. Secara topografi s dan klimatologis, Kabupaten Ponorogo merupakan dataran rendah dengan iklim tropis yang mengalami dua musim kemarau dan musim penghujan dengan suhu udara berkisar antara 18˚ s/d 31˚ Celcius. Bila dilihat menurut luas wilayahnya, Kecamatan yang memiliki wilayah terluas (di atas 100 km2) secara berturut-turut adalah Kecamatan Ngrayun, Kecamatan Pulung dan Kecamatan Sawoo.
Jika melihat dari beberapa sektor, Ponorogo sendiri terkenal dengan budaya nya yang sangat khas yaitu Grebeg Suro dan Kesenian Reog Ponorogo. Hal ini akhirnya mampu menjadikan Ponorogo sebagai Kota Budaya dengan Reog Ponorogo sebagai maskotnya. Keistimewaan dari Ponorogo sendiri juga tidak bisa ditinggalkan oleh peristiwa-peristiwa bersejarah. Bisa dikatakan bahwa Ponorogo memiliki sejarah dari beberapa aspek, misalnya budaya Reog Ponorogo yang dulu terkenal melalui banyak versi. Versi tersebut yang paling mencolok dari sejarah Reog Ponorogo adalah Versi Bantarangin.
Versi Bantarangin menjelaskan tentang awal kisah asmara Raja Kelono Sewandana kepada anak dari raja di salah satu Kerajaan Kediri yaitu Dewi Songgolangit. Kemudian memperebutkan sang dewi dengan seorang pemuda dari rakyat biasa yang memiliki hewan peliharaan burung merak. Hingga pada akhirnya mereka berkelahi dengan pemuda tersebut sampai sang raja memenangkan peperangan tersebut dan akhirnya pemuda yang dinamakan Singo Barong itu ikut bersama pasukan Raja Kelono Sewandono untuk melamar Dewi Songgolangit. Akhirnya peperangan tersebut dijadikan cerita alur dari Reog Ponorogo sampai sekarang.
Sedangkan dari aspek ekonomi, hampir sebagian besar penduduk Kabupaten Ponorogo bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Hasil panen oleh masyarakat dijual di pasar-pasar bahkan sampai dititipkan oleh pedagang lain. tidak hanya itu saja, selain mereka menjualkan dagangannya sendiri, mereka juga bekerja di sore hari sebagai pekerja industri kecil. Menjadi pengrajin atribut/aksesoris reog juga merupakan salah satu pekerjaan sampingan dari sebagian masyarakat Ponorogo.
Penulis disini ingin lebih mengkrucutkan tentang kondisi perekonomian di Kecamatan Balong yang berpusat di pasar tradisional yaitu Pasar Balong. Pasar sendiri jika dilihat dari beberapa aspek merupakan sebuah tempat atau keadaan dimana didalamnya terdapat interaksi atau komunikasi antara pedagang dan pembeli. Tidak hanya mereka saja, akan tetapi di pasar juga terdapat status sosial lain misalnya pengamen, pengemis, maupun pekerja-pekerja seperti manol.
Pasar Balong ternyata sudah ada sejak lama, sekitar tahun 1950-an pasar ini sudah ramai oleh orang-orang dalam maupun luar Ponorogo misalnya dari Pacitan, Trenggalek, Tulungangung, Madiun, dan yang paling banyak dari kawasan pegunungan yaitu Sarangan-Magetan karena mereka mengekspor sayur-sayur segar dari sana. Kondisi ini membuat perekonomian masyarakat lumayan meningkat tajam, karena pasar ini buka setiap hari bahkan sampai 24jam penuh ketika menjelang lebaran.
Hal itu dijelaskan oleh salah satu pedagang kambil (kelapa tua) di pasar balong yaitu Mbah Tukinem, beliau menjelaskan bahwa
“Pasar Balong itu sudah berdiri lama, mbah belum lahir saja pasar itu sudah ada, dulu hampir setiap hari aktivitas orang-orang ramai disana. Sembarang macam kebutuhan ada disana, kamu mau mencari apa saja bisa cari disana sampek sepuasnya” ungkap Mbah Tukinem dengan logat mataraman yang khas.
Tidak hanya itu, dengan ramai nya kegiatan di Pasar Balong juga dimanfaatkan oleh kuli-kuli atau lebih mudah disebut manol untuk turut mengais rejeki di tengah ramai nya pedagang dan pembeli. Mereka biasanya datang bersama pedagang ketika akan buka lapak, dengan menggendong barang dagangan milik penjual dengan muatan banyak.
“manol itu juga sering nampak di pasar, meskipun terkadang si penjual gakmau di bantu, mereka langsung merebut karung-karung yang dibawa si penjual untuk dibawakannya dan memberi keringanan dengan upah seadanya (tanpa tarif dari manol tersebut)” ungkap Mbah Tukinem.
Situasi tersebut akhirnya bertahan lama hingga akhirnya Pasar Balong mengalami pengurangan massa, salah satu penyebab dari berkurangnya aktifitas transaksi di pasar adalah dengan adanya pedagang sayur keliling atau kalau disini lebih dikenal dengan istilah Obrok. Semenjak adanya Obrok, masyarakat menjadi memilih belanja sayur di depan rumah karena memang peran Obrok disini yaitu mengantarkan macam-macam sayur ke depan rumah penduduk. Seperti penjelasan dari Mbah Sipon selaku salah pedagang sayur kacang di Pasar Balong
“Pasar Balong itu memang ramai sekali mbak, tapi semenjak adanya Obrok pasar malah tidak seramai dulu, sampai-sampai masyarakat malah milih untuk menjadi kurir Obrok biar dagangannya tidak terlalu sepi”. Ujar Mbah Sipon.
Memang perkembangan zaman begitu cepat beraptasi hingga mengakibatkan sedikit bergesernya tingkat interaksi di Pasar Balong. Akan tetapi jika kita lihat dari dampak postif dari adanya Obrok ialah lebih mudahnya masyarakat dalam membeli sayuran untuk lauk pauk.
“tapi tetep mbak kalau mau beli perabotan rumah tangga misal ember, gayung, maupun baju tetap harus datang ke pasar”. Ujar Mbah Sipon.
Selain pasar tradisonal dan Obrok, masyarakat lambat laun juga kebanyakan diantaranya menjual makanan yang sudah siap saji. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Kecamatan Balong memiliki gaya hidup konsumtif yang tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dengan banyak dijumpai berdirinya toko-toko pakaian, toko sepatu, toko kebutuhan dan yang paling utama ialah banyak terdapatnya caffe, tempat nongkrong, warung makan dan banyaknya pedagang-pedagang makanan yang keliling maupun yang berada di pinggir jalan raya di wilayah tersebut. Salah satu diantara kawasan yang banyak ditemuinya para pedagang ialah yang berada di sepanjang Jalan Pemuda Kecamatan Balong. Para pedagang tersebut yang selanjutnya disebut pedagang kaki lima menjajakan 51 dagangannya yang sebagian besar berupa makanan di kawasan tersebut dengan menggunakan gerobak yang terbuat dari kayu maupun yang terbuat dari kaca dan aluminium (rak etalase).
Lantas bagaimana perkembangan Pasar Balong di era modern saat ini terlebih dengan adanya pandemi Covid 19 ?
Seperti tujuan penulis sendiri yaitu ingin memberi referensi bagi pembaca dari sudut pandang masyarakat pedagang di Pasar Balong terkait dengan aktivitas perdaganganya, ditengah adanya wabah Corona atau penduduk Balong lebih menyebut dengan “Virus Coro Kethon” yang membuat hampir seluruh kalangan masyarakat terhambat bekerja. Dampak yang paling terlihat dari adanya virus ini adalah berkurangnya penghasilan masyarakat yang semula beraktivitas di Pasar Balong. Contohnya Mbah Tukinem dan Mbah Sipon yang bercerita tentang keluh kesah saat tidak bisa berdagang lagi di pasar.
“la trus kalo ada coro kethon kayak gini anak-anak mau makan apa mbak ?semua dilarang, apa-apa dilarang dan kalo gak jualan ya gimana gak ada pekerjaan lain mbak” ungkap Mbah Tukinem sambil sedikit emosi.
Gambar Pasar Balong saat pagi hari yang dimana pada hari-hari lain nampak ramai dengan aktivitas masyarakat layaknya di pasar namun di gambar nampak sepi.
Hal ini tentu harus kita perhatikan lagi terutama kalangan petinggi maupun kaum pelajar yang diharapkan bisa peka dalam situasi seperti ini. Yang menjadi acuan pertama adalah pelaku ekonomi mikro yang sudah jelas sangat merugikan mereka. Hal ini ternyata tidak baru saja terjadi di Indonesia, akan tetapi dulu ada pandemik penyakit cacar yang menyerang masyarakat Jawa Timur. Penyakit ini bahkan telah menewaskan beribu masyarakat di sekitaran Gresik dan Surabaya. Hingga adanya penanganan langsung dari mantra-mantri Belanda untuk menangani virus ini. Meskipun dulu sistem pengobatan tardisional oleh rakyat Pribumi sudah mulai berkembang, akan tetapi kuatnya kekuasaan penjajah kolonial yang berkemajuan teknologi dalam menangani pandemi penyakit cacar akhirnya tidak banyak rakyat yang menggunakan sistem pengobatan tradisional.
Penggunaan sistem pengobatan tradisional tidak lain juga didapat dari bahan-bahan yang biasa dijual di pasar tradisional. Yaitu hasil bumi yang dikelola oleh masyarakat Berdasarkan fungsi masing-masing. Makadari itu penanganan dari pemerintah seharusnya bisa tersampaikan untuk penanganan pandemi Coro Kethon ini.
Dilihat dari kondisi saat ini, masyarakat yang biasanya berdagang maupun belanja di Pasar Balong sedikit demi sedikit mulai kembali beraktivitas meskipun harus memenuhi beberapa protokol kesehatan. Hal ini menurut penulis sendiri cukup efektif jika dilihat karena mau sampai kapan kita berada disituasi seperti ini terus, jika terus terjadi secara otomatis perekonomian di kalangan masyarakat kecil akan terus terganngu. Penyakit bisa kapan saja datang dan pergi. Kita tidak akan tau kapan kita diberi sakit dan kapan kita diberi sembuh.
Gambar tersebut nampak kondisi aktivitas pedagang, pembeli dan Obrok setelah diperbolehkan untuk kembali beraktivitas di Pasar Balong
Intinya yang bisa diambil pelajaran dari adanya Virus Corona ini adalah selalu senantiasa menjaga diri dengan menjaga kesehatan dan jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Senantiasa berdo’a agar apa yang menjadi tantangan bagi hidup kita, harus kita lawan dengan tekad dan kebersamaan gotong royong.
“semoga cepat berlalu ya mbak, biar masyarakat seperti kita ini bisa nyari nafkah lagi” ucap Mbah Tukinem.
Penulis : Ratna Feby Anengsih (121811433002) Ilmu Sejarah UNAIR 2018



Komentar
Posting Komentar